Berikan Materi Memahami Pemikiran HOS Tjokroaminoto, Aulia Tahkim Tjokroaminoto : Beliau Melawan Semua Isme-Isme yang Tidak Berdasarkan Tauhid

Jakarta, suarasi.com – “Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau biasa dipanggil HOS Tjokroaminoto selalu memagang nilai-nilai islam secara universal,” ujar cicit HOS Tjokroaminoto, Aulia Tahkim Tjokroaminoto atau biasa dipanggil Willy Tjokroaminoto, saat menjadi pemateri dalam Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto Institute di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/2).

Menurut Willy, pada awalnya, Syarikat Islam tidak hanya untuk orang islam, banyak yang beragama lain, namun setuju dengan maksud dan tujuan Syarikat Islam, menjadi Anggota. Tapi dalam perjalanannya, Syarikat Islam itu anggotanya hanya orang islam saja.

“Semua terjadi karena banyak yang kurang memahami pemikiran HOS Tjokroaminoto, terutama pemikiran politik beliau. Alhasil yang terjadi adalah main sikat-sikatan dan sikut-sikutan dalam internal Syarikat Islam, yang akhirnya membuat Syarikat Islam terpecah dan tidak lagi mempraktekkan tafsir program Azas dan Program Tandhim yang dibuat oleh HOS Tjokroaminoto,” tegas Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam ini.

Padahal, kenang Willy, tafsir program Azas dan program Tandhim yang menjadi roh bagi pergerakan Syarikat Islam dibuat saat HOS Tjokroaminoto mengalami koma selama 2 hari, saat itu beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah, lalu ditulislah tafsir program Azas dan program Tandhim.

“Dari tafsir program Azas dan program Tandhim terdapat tujuan Syarikat Islam yakni akan menjalankan islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya kita mendapatkan satu dunia islam yang sejati, yakni suatu peradaban Islam. Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin atau islam adalah rahmat bagi semesta alam,” jelas Willy dihadapan peserta yang terdiri dari perwakilan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan ini.

Sedangkan, lanjut Willy, kecelaan dan kebusukan yang menjadi lawan bagi pemikiran politik HOS Tjokroaminoto adalah kapitalisme, imperalisme, pluralisme, sekulerisme, takfiri, dan isme-isme lainnya yang tidak berdasarkan tauhid.

“Islam mengakui perbedaan dan HOS sepakat dengan itu, namun dalam konteks pluralisme HOS Tjokroaminoto tidak bersepakat. Beliau sepakat bahwasanya manusia itu plural alias berbeda antara satu dengan lainnya, tapi menganggap bahwasanya semua agama itu sama atau berpikiran pluralisme itu yang beliau tidak sepakat. Bagi beliau, islam merupakan agama yang paling baik, dan umat islam perlu bekerjasama dengan agama lain untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik,” jelasnya dalam materi ‘Memahami Pemikiran HOS Tjokroaminoto’ tersebut.

Oleh karena itu, jelasnya, untuk melawan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketauhidan dan untuk mewujudkan suatu peradaban Islam, maka disusulah Program Tandhim dengan bersandar kepada Sebersih-bersihnya tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah yang berkenaan dengan bangsa dan negeri tumpah darah, serta untuk menuju maksud tercapainya persatuan ummat Islam sedunia.

Tak hanya itu, lanjut Willy, untuk menerjemahkan pemikiran HOS Tjokroaminoto, sekarang ini sekolah-sekolah Syarikat Islam menerapkan kurikulum ke Syarikat Islam an yang bersumber dari nilai nilai Moeslem National Onderwijs serta tafsir program Azas dan program Tandhim dan terintegrasi dengan kurikulum pendidikan yang berlaku sekarang ini.

“Sekolah Syarikat Islam ada sekitar 500 buah yang tersebar diseluruh Indonesia, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP dan SMA/sederajat dengan tujuan untuk terus melestarikan pemikiran-pemikiran HOS Tjokroaminoto bagi generasi muda. Termasuk keinginan dari Tjokroaminoto Institute untuk terus menggemakan pemikiran HOS Tjokroaminoto harus kita apresiasi dan dukung bersama,” tutupnya.

 sumber: suarasi.com